Teknik Khitobah Menurut Psikologi
Novitasari (D20185023)
Teknik-teknik Khitobah Menurut Psikologi
Teknik impromptu adalah teknik yang dilakukan tanpa adanya persiapan dari orang yang akan berpidato/berceramah. Bagi mereka yang sudah terbiasa berpidato, teknik ini memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah (1) impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan pembicara yang sebenarnya, karena pembicara tidak memikirkan lebih dulu pendapat yang disampaikannya, (2) gagasan dan pendapatnya datang secara spontan, sehingga tampak segar dan hidup, dan (3) impromtu memungkinkan Anda terus berpikir.
Namun demikian, impromtu ini memiliki beberapa kelemahan, terutama bagi pembicara atau orang yang belum terbiasa berpidato. Kelemahan-kelemahan impromtu tersebut antara lain adalah (1) impromtu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah karena dasar pengetahuan yang tidak memadai, (2) impromtu mengakibatkan penyampaian yang tersendat-sendat dan tidak lancar, (3) gagasan yang disampaikan bias “acak-acakan”, (4) karena tiadanya persiapan, kemungkinan “demam panggung” besar sekali..
Dari sini kita bisa melihat bahwa secara psikologi teknik ini dapat mempengaruhi audiens apabila si pembawa pidato mahir dalam melakukan pidato secara spontan dan tanpa persiapan sebelumnya. Teknik ini membutuhkan mental dan kesiapan yang matang. Karena apabila si pembawa pidato tidak memiliki kecakapan yang baik dalam berkata-kata maka apa yang dibawakannya tidak akan membawa pengaruh yang berarti bagi audiens
Teknik Manuskrip/Naskah
Pidato dengan teknik manuskrip ini juga sering disebut pidato dengan naskah. Orang yang berpidato mmembacakan naskah pidato dari awal sampai akhir. Pidato jenis manuskrip ini diperlukan oleh tokoh nasional dan para ilmuwan dalam melaporkan hasil penelitian yang dilakukannya. Mereka harus berbicara atau berpidato dengan hati-hati, karena kesalahan pemakaian kata atau kalimat akibatnya bisa lebih luas dan berakibat negatif.
Keuntungan pidato manuskrip antara lain adalah (1) kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat menyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gamblang, (2) pernyataan dapat dihemat, karena manuskrip dapat disusun kembali, (3) Kefasihan bicara dapat dicapai, karena kata-kata sudah disiapkan, (4) hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindari, (5) manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.
Akan tetapi kalau dilihat dari proses komunikasi, kerugian pidato manuskrip ini akan lebih berat , di antaranya adalah (1) komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung kepada mereka, (2) pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik, sehingga akan kehilangan gerak dan bersifat kaku, (3) Umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek atau memperpanjang pesan, (4 ) pembuatannya lebih lama daripada sekedar menyiapkan garis-garis besarnya saja. Agar dapat menghindari berbagai kelemahan dari pidato manuskrip ini, maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini: Susunlah lebih dahulu garis-garis besarnya dan siapkan bahan-bahannya. Tulislah manuskrip seolah-olah Anda berbicara. Gunakan gaya percakapan yang lebih informal dan langsung. Baca naskah itu berkali-kali sambil membayangkan pendengar. Siapkan manuskrip dengan ketikan besar, tiga spasi dan batas pinggir yang luas.
Seperti yang dijelaskan diatas secara psikologi jika ditinjau dari perspektif psikologi komunikasi, teknik pidato semacam ini kurang baik untuk dilakukan karena terkesan monoton, tidak ada improvisasi dan cenderung membosankan. Komunikasi yg terjadi hanya satu arah atau tidak ada komunikasi yang berarti antara komunikan dan komunikator baik secara verbal maupun nonverbal. Sehingga, apa yanv disampaikan kurang berpengaruh pada jiwa pendengar.
3. Teknik Memoriter/menghafal
Pidato dengan teknik ini juga sering disebut sebagai pidato hafalan. Pembicara atau orang yang akan berpidato menulis semua pesan yang akan disampaikan dalam sebuah naskah kemudian dihafalkan dan disampaikan kepada audiens kata-demi kata secara hafalan.
Pidato memoriter ini sering menjadi tidak dapat berjalan dengan baik apabila pembicara lupa bagian yang akan disampaikan, dan dalam pidato ini hubungan antara pembicara dengan audiens juga kurang baik.
Kekurangan pidato jenis ini antara lain adalah: tidak terjalin saling hubungan antara pesan dengan pendengar, kurang langsung, memerlukan banyak waktu dalam persiapan, kurang spontan, perhatian beralih dari kata-kata kepada usaha mengingat-ingat.
Secara psikologi pidato dengan teknik ini sangat memanfaatkan memori untuk mengingat materi pidato. Kesempurnaan ingatan itulah yang nantinya akan menentukan keberhasilan sebuah pidato.
Teknik Ekstemporer
Teknik ekstemporer adalah jenis pidato yang paling baik dan paling banyak digunakan oleh juru pidato yang telah mahir. Dalam pidato dengan teknik ini, pembicara hanya menyiapkan garis besar (out-line) saja. Dalam penyampaiannya, pembicara tidak mengingat kata demi kata tetapi pembicara bebas menyampaikan ide-idenya dengan rambu-rambu garis besar permasalahan yang telah disusun. Komunikasi yang terjadi antara pembicara dengan audiensnya dapat berlangsung dengan lebih baik.
Pembicara dapat secara langsung merespons apa yang terjadi di hadapannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya. Bagi pembicara yang belum mahir berpidato, pidato jenis ekstemporer ini memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut di antaranya adalah: persiapan kurang baik bila dibuat terburu-buru, pemilihan bahasa yang jelek, kefasihan yang terhambat karena kekurangan memilih kata dengan segera, kemungkinan menyimpang dari garis besar pidato (out-line), tentu saja tidak dapat dijadikan bahan penerbitan. Akan tetapi, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi dengan banyak melakukan latihan.
Secara psikologi pidato dengan teknik ini merupakan teknik yang cukup baik untuk digunakan, dimana terjadi umpan balik antara audiens dan penceramah. Sehingga pidato dengan teknik ini dipercaya dapat mempengaruhi jiwa audiens yang mendengarkannya.
Referensi :
Faizah dkk. 2015. Psikologi Dakwah. Jakarta: Prenada Media Group
Komentar
Posting Komentar